Pygmalion - Pematung Yunani dari Galatea

  • Bagikan Ini
Stephen Reese

    Pygmalion, seorang tokoh legendaris Siprus, adalah seorang raja dan pematung. Dia dikenal karena jatuh cinta dengan patung yang telah dipahatnya. Kisah asmara ini mengilhami beberapa karya sastra terkenal, membuat nama Pygmalion menjadi terkenal. Berikut ini adalah ulasan lebih dekat.

    Siapakah Pygmalion?

    Menurut beberapa sumber, Pygmalion adalah putra dari Poseidon Dia adalah raja Siprus sekaligus pematung gading yang terkenal. Karya-karyanya begitu fantastis sehingga tampak nyata. Dia tinggal di kota Paphos di Siprus. Cerita lain menyebutkan bahwa Pygmalion bukanlah seorang raja, tetapi hanya orang biasa, yang keterampilannya sebagai pematung sangat luar biasa.

    Pygmalion dan Wanita

    Setelah melihat wanita yang bekerja sebagai pelacur, Pygmalion mulai membenci mereka. Dia merasa malu terhadap wanita dan memutuskan bahwa dia tidak akan pernah menikah dan membuang-buang waktu dengan mereka. Sebaliknya, dia mempelajari patung-patungnya dan menciptakan penggambaran yang indah dari wanita yang sempurna.

    Pygmalion dan Galatea

    Karya terbaiknya adalah Galatea Pygmalion mendandani ciptaannya dengan pakaian terbaik dan memberinya ornamen-ornamen terbaik yang bisa ia temukan. Setiap hari, Pygmalion akan memuja Galatea selama berjam-jam.

    Pygmalion memutuskan untuk berdoa kepada Aphrodite, dewi kecantikan dan cinta, untuk memberikan bantuannya. Dia meminta Aphrodite Pygmalion berdoa di festival Aphrodite, sebuah perayaan yang terkenal di seluruh Siprus, dan memberikan persembahan kepada Aphrodite. Ketika Pygmalion kembali ke rumah dari festival, dia memeluk dan mencium Galatea, dan tiba-tiba patung gading itu mulai melunak. Aphrodite telah memberinya berkat.

    Dalam beberapa mitos, Aphrodite mengabulkan keinginan Pygmalion karena kemiripan Galatea dengannya. Galatea menjadi hidup berkat kekuatan Aphrodite, dan keduanya menikah dengan restu sang dewi. Pygmalion dan Galatea memiliki seorang putri, Paphos. Sebuah kota pesisir di Siprus dinamai menurut namanya.

    Cerita Yunani yang Serupa

    Ada beberapa kisah Yunani lainnya di mana benda mati menjadi hidup, beberapa di antaranya adalah:

    • Daedalus menggunakan quicksilver untuk memberikan suara pada patung-patungnya
    • Talos adalah seorang pria perunggu yang memiliki kehidupan tetapi masih buatan
    • Pandora diciptakan dari tanah liat oleh Hephaestus dan diberi kehidupan oleh Athena
    • Hephaestus akan menciptakan automata di bengkelnya
    • Orang-orang juga telah menarik perbandingan antara mitos Pygmalion dan kisah Pinokio.

    Pygmalion dalam Seni

    Ovid Metamorfosis Dalam penggambaran ini, penulis menggambarkan semua peristiwa kisah Pygmalion dengan patungnya. Namun, nama Galatea tidak berasal dari Yunani Kuno. Nama Galatea kemungkinan besar muncul pada masa renaissance.

    Kisah cinta Pygmalion dan Galatea menjadi tema dalam karya seni selanjutnya, seperti opera Rousseau tahun 1792, berjudul Pygmalion . George Bernard Shaw mendasarkan permainannya pada tahun 1913 Pygmalion pada tragedi Ovid.

    Belakangan ini, Willy Russel menulis sebuah drama berjudul Mendidik Rita, Beberapa penulis dan seniman lain telah mendasarkan karya mereka pada mitos Pygmalion.

    Beberapa penulis telah menggunakan kisah Pygmalion dan Galatea untuk menunjukkan bukannya kehidupan benda mati, tetapi pencerahan dari seorang wanita yang tidak berpendidikan.

    Secara Singkat

    Pygmalion adalah karakter yang menarik karena bagaimana ia menerima bantuan Aphrodite berkat kemampuannya. Mitosnya menjadi berpengaruh dalam karya seni renaisans dan masa-masa belakangan ini. Meskipun ia bukan pahlawan atau dewa, kisah cinta Pygmalion dengan patungnya membuatnya menjadi sosok yang terkenal.

    Postingan sebelumnya Antiope - Putri Thebes

    Stephen Reese adalah seorang sejarawan yang berspesialisasi dalam simbol dan mitologi. Dia telah menulis beberapa buku tentang subjek tersebut, dan karyanya telah diterbitkan di jurnal dan majalah di seluruh dunia. Lahir dan besar di London, Stephen selalu menyukai sejarah. Sebagai seorang anak, dia akan menghabiskan waktu berjam-jam mempelajari teks-teks kuno dan menjelajahi reruntuhan tua. Ini membawanya untuk mengejar karir dalam penelitian sejarah. Ketertarikan Stephen pada simbol dan mitologi berasal dari keyakinannya bahwa itu adalah dasar dari budaya manusia. Ia percaya bahwa dengan memahami mitos dan legenda tersebut, kita dapat lebih memahami diri kita sendiri dan dunia kita.